UPAYA PENINGKATAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MELUKIS PADA SISWA TUNADAKSA
DOI:
https://doi.org/10.33394/realita.v11i1.19130Keywords:
motorik halus, terapi melukis, tunadaksaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keefektifan kegiatan melukis sebagai intervensi untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada siswa tunadaksa di SLB-D YPAC Social Nirlaba Palembang. Penelitian dilaksanakan melalui observasi lapangan dan penelitian tindakan selama program magang dari 14 Oktober hingga 16 Desember 2025. Metode yang digunakan meliputi sesi melukis terstruktur dua kali seminggu, dengan alat yang dimodifikasi seperti kuas berpengangan tebal dan cat jari, dikombinasikan dengan asesmen observasional, dokumentasi karya siswa, catatan harian, dan wawancara guru. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan motorik halus siswa, khususnya pada kekuatan menggenggam, koordinasi mata-tangan, dan fokus mengerjakan tugas. Kegiatan melukis memberikan latihan berulang, menyenangkan, dan kaya stimulasi sensorik yang meningkatkan kontrol otot dan motivasi psikologis. Studi ini menyimpulkan bahwa melukis merupakan media terapi yang efektif dan adaptif untuk pengembangan motorik halus anak tunadaksa, serta merekomendasikan integrasinya ke dalam kurikulum pendidikan khusus.
References
American Occupational Therapy Association. (2020). Occupational therapy practice framework: Domain and process (4th ed.). American Journal of Occupational Therapy, 74(Supplement_2). https://doi.org/10.5014/ajot.2020.74S2001
Amin, M. (1995). Ortopedagogik tunadaksa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ayres, A. J. (2005). Sensory integration and the child: Understanding hidden sensory challenges. Western Psychological Services.
Bundy, A. C., Lane, S. J., & Murray, E. A. (2002). Sensory integration: Theory and practice (2nd ed.). F.A. Davis Company.
Case-Smith, J. (2000). Effects of occupational therapy services on fine motor and functional performance in preschool children. The American Journal of Occupational Therapy, 54(4), 372–380. https://doi.org/10.5014/ajot.54.4.372
Case-Smith, J., & O'Brien, J. C. (2015). Occupational therapy for children and adolescents (7th ed.). Elsevier Mosby.
Clements, D. H., & Sarama, J. (2009). Learning and teaching early math: The learning trajectories approach. Routledge.
Coskun, Y. D., & Yilmaz, M. (2020). The effect of art activities on fine motor skills of children with cerebral palsy. International Journal of Education and Practice, 8(2), 311–321. https://doi.org/10.18488/journal.61.2020.82.311.321
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. Harper & Row.
Dankert, H. L., Davies, P. L., & Gavin, W. J. (2003). Occupational therapy effects on visual-motor skills in preschool children. The American Journal of Occupational Therapy, 57(5), 542–549. https://doi.org/10.5014/ajot.57.5.542
Exner, C. E. (2010). Development of hand skills. In J. Case-Smith & J. C. O'Brien (Eds.), Occupational therapy for children (6th ed., pp. 285–324). Mosby Elsevier.
Folio, M. R., & Fewell, R. R. (2000). Peabody Developmental Motor Scales-2 (PDMS-2). Pro-Ed.
Gray, J. M. (1998). Putting occupation into practice: Occupation as ends, occupation as means. The American Journal of Occupational Therapy, 52(5), 354–364. https://doi.org/10.5014/ajot.52.5.354
Hurlock, E. B. (2004). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (Edisi 5, Terjemahan). Erlangga.
Kaimal, G., Ray, K., & Muniz, J. (2016). Reduction of cortisol levels and participants' responses following art making. Art Therapy, 33(2), 74–80. https://doi.org/10.1080/07421656.2016.1166832
Kielhofner, G. (2008). Model of human occupation: Theory and application (4th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Kleim, J. A., & Jones, T. A. (2008). Principles of experience-dependent neural plasticity: Implications for rehabilitation after brain damage. Journal of Speech, Language, and Hearing Research, 51(1), S225–S239. https://doi.org/10.1044/1092-4388(2008/018).
Kosasih, A. (2012). Seni rupa anak berkebutuhan khusus: Teori dan aplikasi. PT Remaja Rosdakarya.
Lane, S. J., & Bundy, A. C. (2012). Kids can be kids: A childhood occupations approach. F.A. Davis.
Latief, M. A. (2019). Intervensi dini bagi anak berkebutuhan khusus. Kencana Prenada Media Group.
Malchiodi, C. A. (2012). Handbook of art therapy (2nd ed.). Guilford Press.
Mulyono, A. (2018). Pendidikan bagi anak tunadaksa. Universitas Negeri Malang Press.
Rose, D. H., & Meyer, A. (2002). Teaching every student in the digital age: Universal design for learning. Association for Supervision and Curriculum Development.
Slamet, R., & Sujiono, B. (2017). Pengembangan keterampilan motorik halus anak usia dini. Kencana Prenada Media Group.
Somantri, T. S. (2007). Psikologi anak luar biasa. Refika Aditama.
Suciati, & Pratiwi, I. M. (2018). Pengembangan motorik halus. Deepublish.
World Health Organization. (2019). International classification of functioning, disability and health (ICF) for children and youth. WHO. https://apps.who.int/iris/handle/10665/208279
YPAC Social Nirlaba Palembang. (2023). Profil dan program layanan anak tunadaksa. [Diakses dari media sosial instansi]










