FENOMENA PERGESERAN TERMINOLOGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KE NEURODIVERGENT: LITERATURE REVIEW
DOI:
https://doi.org/10.33394/realita.v11i1.18068Keywords:
Terminologi; Anak Berkebutuhan Khusus (ABK); NeurodivergentAbstract
Fenomena pergeseran istilah dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke neurodivergent mencerminkan perubahan paradigma pendidikan inklusif di Indonesia. Istilah ABK masih dominan digunakan karena fungsinya yang administratif, namun berakar pada paradigma medis yang cenderung menimbulkan stigma. Sebaliknya, neurodivergent menawarkan perspektif humanis dengan menekankan keragaman neurologis sebagai bagian dari variasi alami manusia. Penelitian ini bertujuan menelusuri perkembangan wacana pergeseran terminologi tersebut dalam literatur lima tahun terakhir serta implikasinya terhadap pendidikan inklusif. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa meski istilah ABK masih dominan, wacana neurodivergent mulai diadopsi dan berimplikasi positif pada praktik inklusif berbasis kekuatan. Namun, penerapannya masih terkendala minimnya pemahaman masyarakat, regulasi resmi, dan kuatnya dominasi istilah ABK. Oleh karena itu, adopsi istilah neurodivergent perlu dilakukan secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan guru, dan penguatan literasi publik.
References
Anwar, R., & Sari, M. (2021). Pemahaman guru terhadap istilah neurodiversity dalam pendidikan inklusif. Jurnal Inklusi, 8(2), 145–158.
Aryanti, R., Widagdo, W., & Minsih. (2024). Implementasi istilah ABK dalam layanan pendidikan inklusif. Jurnal Pendidikan Khusus, 20(1), 33–45.
Aryanti, S., Widagdo, W., & Minsih, M. (2024). Terminologi anak berkebutuhan khusus dalam praktik pendidikan di Indonesia. Jurnal Pendidikan Khusus (JPK), 20(1), 15–28.
Astuti, D., & Rahayu, S. (2020). Pendidikan inklusif yang ramah anak: Perspektif guru sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 19(2), 121–130.
Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075
Fitria, N. (2023). Pergeseran pendekatan deficit-based ke strength-based dalam pendidikan inklusif. Jurnal Konseling Indonesia, 12(1), 55–67.
Herlina, H. (2023). Neurodiversitas dalam wacana pendidikan inklusif di Indonesia. INKLUSI: Journal of Disability Studies, 10(2), 101–115.
Hidayat, A., & Puspitasari, R. (2021). Stigma terhadap anak berkebutuhan khusus dalam praktik pendidikan inklusif. JASSI Anakku, 22(1), 77–88.
Itryah, N., & Widianty, F. (2024). Stigma dan stereotip dalam penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus. Jurnal Pendidikan Inklusif, 9(1), 55–67.
Kapp, S. K., Gillespie-Lynch, K., Sherman, L. E., & Hutman, T. (2020). Deficit, difference, or both? Autism and neurodiversity. Developmental Psychology, 56(5), 931–943.
Lestari, F., & Hadi, S. (2023). Kurikulum berbasis neurodiversity: Tantangan implementasi di sekolah inklusif. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 6(3), 245–259.
Maisarah, S., Saleh, R., & Husna, N. (2024). Pergeseran konsep anak berkebutuhan khusus ke neurodivergent: Telaah literatur. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(1), 45–60.
Mulyani, T. (2022). Strategi pembelajaran adaptif untuk siswa neurodivergent di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Inklusif, 10(2), 201–213.
Ningsih, Y., & Andriani, P. (2020). Kritik terhadap penggunaan istilah ABK dalam pendidikan inklusif. Jurnal Psikologi Pendidikan, 9(1), 13–24.
Owa, P., Itu, J., Kero, M., & Ledu, R. (2023). Perspektif guru terhadap istilah neurodivergent dalam pendidikan inklusif. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 18(3), 211–225.
Pratama, D. (2024). Neurodivergent sebagai paradigma baru pendidikan inklusif di Indonesia. INKLUSI: Journal of Disability Studies, 11(1), 1–15.
Purri, D., Andini, M., Tunnur, S., & Andriani, A. (2024). Keterbatasan istilah anak berkebutuhan khusus dalam praktik pendidikan: Sebuah kritik. Jurnal Pendidikan Khusus, 21(2), 77–89.
Rahmawati, L. (2022). Analisis kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia: Perspektif regulasi dan implementasi. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 11(2), 101–113.
Saputra, B., & Dewi, K. (2023). Wacana neurodivergent dalam kajian sosial-humaniora. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 6(1), 77–90.
Saputra, W., & Sunarya, Y. (2024). Perkembangan penelitian kualitatif dalam pembelajaran membaca: Sebuah kajian studi literatur. Jurnal Education and Development, 12(3), 64–69.
Sari, R. P. (2023). Strength-based approach dalam pendidikan inklusif berbasis neurodiversitas. Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia, 12(2), 134–145.
Widiastuti, D., & Laksmiwati, H. (2022). Tantangan penerapan konsep neurodivergent di Indonesia. Jurnal Pendidikan Inklusif, 8(2), 89–102.
Yandes, A., Pratama, F., Wulandari, D., & Sari, M. (2024). Kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia: Antara istilah ABK dan neurodivergent. Jurnal Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus (JASSI Anakku), 25(1), 1–14.










